Selasa, 01 Mei 2012

Cerpen kedua sayaa..


Ajeng

Pagi ini aku berdoa untuk seorang gadis yang telah lama tak kembali ke rumah ini. Dia yang selalu aku rindukan. Dalam doa, aku berharap dia baik baik saja disana. Aku tidak pernah ingin mengganggu hidupnya tapi, dia anakku. Dia anakku yang dulu masih sangat kecil sekarang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa. Aku tahu cita-citanya setinggi apa. Dan aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk dia.
Rumah ini adalah satu-satunya harta yang tersisa untuk dia. Aku memang tidak hidup sendiri tapi  Ajeng adalah jiwaku.
“Doa apalagi yang kamu panjatkan untuk Ajeng, Bu?” suara lembut suamiku dan tepukan tangan kasarnya dibahuku membuyarkan lamunanku dalam doa subuh ini.
“enggak pak, aku hanya merindukan Ajeng”. Jawabku pelan.
“Ajeng sudah melupakan kita mungkin Bu, ini sudah tahun ke-5 dia kuliah di Surabaya tapi tak ada kabar dari dia. apakah dia sudah lulus apa belum, kita tidak tahu.” Sambil berlalu pergi, meninggalkan tempat sholatku.
Sementara itu di kota lain yaitu Surabaya, Ajeng masih tertidur pulas dibalik selimutnya. Lagi-lagi dia tidak menunaikan ibadah sholat subuh. Kehidupan  Ajeng yang selama ini dibayangkan kedua orang tuanya sangat berbanding terbalik dengan keadaan sebenarnya. Lima tahun sudah dia di Surabaya dan seharusnya dia sudah lulus tahun lalu.
“woi bangun woi”
Seorang cewek bertubuh kekar tiba-tiba masuk kedalam kamar Ajeng yang berantakan itu. Tapi Ajeng tidak bangun juga dari tidur pulasnya itu.
“apaan sih? Iya ini mau bangun”
Dengan malas, Ajeng bangun dari tempat tidur dan langsung kekamar mandi kemudian berbenah diri untuk kuliah.
Kehidupan Ajeng memang tidak ada yang tahu. Dia cukup tertutup dikalangan temannya. Apa yang mereka lihat hanyalah Ajeng ketika di kampus, d luar itu Ajeng adalah orang lain. Dia juga terkenal sebagai seorang mahasiswa yang pendiam. Sebenarnya pintar tetapi banyak hal yang menjadikan Ajeng berantakan kuliahnya. Dan sore ini, tanpa berkata apa-apa Ajeng langsung keluar kelas dan meninggalkan teman-temannya.
“Mau kemana, Jeng?” tanya salah satu teman Ajeng bernama Ferri.
“Ah enggak. Ada urusan. Duluan ya…“ jawab Ajeng sambil berlari.
Sejak pertama kali menjadi mahasiswa baru, Ferri sudah sering memperhatikan Ajeng yang notabene adalah adik tingkatnnya Ferri. Namun karena, Ajeng sering ikut kelasnya Ferri, mereka jadi akrab. Rasa penasaran Ferri terhadap kehidupan Ajeng membuat Ferri ingin tahu lebih dalam apa yang dilakukan Ajeng di luar kampus. Akhirnya, sore itu pun Ferri nekat untuk mengikuti Ajeng.
Ajeng dengan tergesa-gesa berlari dan masuk gang kecil dekat kampus. Di sana terdapat rumah kecil yang di depannya ada taman-taman yag cukup indah dengan bunga dan rumput. Dari kejauhan Ferri melihat rumah itu. Ferri Nampak terkejut ketika banyak anak-anak kecil berumur 7-12 tahun keluar dari rumah itu. Anak-anak itu terlihat kurus, kotor, tidak terawat dan sepertinya tidak punya keluarga.
“Kak Ajeng, kak Ajeng datang…” seru anak-anak yang keluar dari rumah itu.
“Haduh… maaf ya kakak telat. Sudah nunggu dari tadi ya?”. Ferri semakin bingung, dengan kehidupan Ajeng. Banyak tetangga-tetangga kosnya yang bilang kalau Ajeng itu sering pulang malam.
“Aneh? Apa gara-gara ini ya Ajeng jadi molor kuliahnya? Tapi mengapa mereka bilang kalau Ajeng sering pulang malam? Siapakah anak-anak kecil itu? Dan apa hubungannya dengan Ajeng? Mengapa dia sepertii sangat menyayangi anak-anak itu?”
Sambil terus berfikir, Ferri meninggalkan rumah itu. Sampai jam 8 malam, Ajeng baru keluar lagi dari rumah itu. Dengan wajahnya yang tampak kusam, ia kembali pulang ke rumah.
“ Seharusnya aku tidak di sini lagi. Harusnya aku sekarang sudah menjadi karyawan di sebuah kantor. Atau aku sekarang ada di rumah bersama keluargaku. Ah… kenapa tiba-tiba aku merindukan ibu dan ayahku. Sejak tiga tahun yang lalu aku sudah memutuskan untuk tidak menghubungi mereka lagi. Biarlah kehidupanku di sini hanya aku saja yang tahu. Dan suatu saat aku memang harus pulang. Tapi entah kapan, ketika aku sudah tidak menjadi seperti ini lagi. Dan ketika aku sudah siap untuk bertemu ibu dan ayah maka aku pulang. Ibu… Ajeng selalu menyayangi ibu. Maafkan Ajeng yang berbuat seperti ini. Dan Ayah… Ajeng akan pulang , ayah pasti tidak mengkhawatirkanku kan?  Ajeng berharap,ayah bisa menjaga perasaan ibu. “
Lagi-lagi malam ini Ajeng membuat aku tidak bisa tidur. Tiga tahun bukan waktu yang lama untuk seorang ibu yang harus menunggu anaknya pulang. Terakhir Ajeng masih mencium tangan ini dan meminta doa pada seorang wanita tua seperti aku. Aku harus bisa bertemu Ajeng.
“Ibu kenapa belum tidur?”
“Kak, besok ibu mau ke Surabaya.”
“Ha? Ngapain bu?”
“Ibu mau mencari Ajeng pak, ibu sudah tidak bisa menunggu lagi.”
“Tapi bu, Surabaya itu jauh, kita tidak tahu apa-apa tentang Surabaya.”
“Tapi ibu harus ketemu sama Ajeng pak… Ini sudah keterlaluan. “
“Hm… Terserah ibu saja lah.“
“Bapak itu tidak pernah khawatir sama Ajeng. Apa bapak sudah nggak sayang lagi sama Ajeng? Ajeng itu anak kita Pak!!” air mataku pun tidak tertahankan lagi. Aku menangis didepan suamiku untuk kesekian kali.
“ Bapak sayang sama Ajeng, bu. Ya sudah besok bapak akan telepon kantor dan minta ijin beberapa hari. Besok kita ke Surabaya”
Sampai tengah malam, aku masih bisa tidur. Wajah Ajeng terbayang-bayang dipikiranku. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu Ajeng.
Malam cepat berlalu. Selesai sholat Subuh, aku dan suamiku menuju terminal. Dalam waktu 8 jam aku sudah sampai di sebuah kota yang cukup besar. Surabaya. Kota inilah yang telah membuat  Ajeng tidak pernah pulang ke rumah . Kota inilah yang menjadi cita-cita Ajeng dulu. Dan kota inilah yang menjadikan aku berada di sini sekarang.
“Kita ke mana ini, pak?”
“Bapak nggak tahu, bu...”
“Hadeh…”
Mungkin tindakanku untk nekat pergi ke Surabaya seperti sebuah tindakan yang bodoh. Berjam-jam aku dan suamiku keliling kota Surabaya. Tapi tidak juga menemukan Ajeng. Kota ini terlalu luas untuk dua orang kampung seperti aku dan suamiku.
“Sudah sore pak..”
“Ibu capek?”
“Enggak pak, tapi kita sholat dulu aja.”
Aku dan suamiku berhenti di sebuah masjid Agung yang indah sekali. Aku sholat Ashar berjamaah dengan suamiku. Dalam doa, aku sangat berharap agar mala mini juga aku bisa bertemu dengan Ajeng.
“Bagaimana bu, kita lanjutkan sekarang atau besok saja?”
“Sekarang saja, pak. Ibu belum capek kok.”
Akhirnya aku memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Sekarang aku berada pada sebuah tempat yang aneh. Di sana banyak sekali orang yang berlalu lalang. Banyak perempuan-perempuan seusia Ajeng berpakaian minim. Aku miris melihatnya. Ini seperti tmpat pelacuran. Dan sepertinya memang benar. Aku terus berdoa agar idak menemukan Ajeng di sini.
“Bu itu Ajeng bu…” kata suamiku sambil menunjuk seorang gadis berpakaian seksi sedang merayu bapak-bapak.
“Astaghfirullah… iya Pak, itu Ajeng”
Aku berjalan setengah berlari menghampiri Ajeng. Dan ternyata benar itu Ajeng anakku. Yang ketika pertama kali berangkat ke Surabaya dia janji akan kembali dengan sebuah kebanggaan.
“Ajeng!!” Teriak ku.
“ibu.. “ Ajeng Nampak terkejut dan terlihat ketakutan.
“apa yang kamu lakukan, nak? Tiga tahun kamu seperti ini?”
“ibu, malu bu dilihat orang banyak…” sela bapak.
“biar pak, ibu juga malu punya anak seperti Ajeng. Ibu dirumah terus-terusan berdoa untuk Ajeng anakku. Ibu dirumah terus-terusan berdoa untuk Ajeng anakku. Tiap malam ibu nggak bisa tidur memikirkan Ajeng anakku. Ibu bela-belain ke Surabaya dan apa yang aku dapati sekarang?"
“ibu… maafkan Ajeng, Bu. Ajeng tidak pernah ingin mrnjadi seperti ini. Maafkan Ajeng Bu…”
“sampai kamu berlutut mencium kaki ibumu ini, ibu masih sakit hati. Sekarang terserah kamu!”
Aku menarik tangan suamiku dan meninggalkan Ajeng yang masih berlutut itu. Tapi hati seorang ibu tidak akan pernah bohong. Karena aku masih ingin tahu alas an apa yang menjadikan Ajeng seperti ini. Tiga tahun dia tidak memberikan kabar dan tidak meminta uang kepadaku. Apa karena dia ingin membiayai kuliahnya sendiri.
“ibu penasaran Pak”.
“sama Ajeng? Harusnya kita mendengarkan penjelasan Ajeng dulu Bu..”
“permisi Pak… Bu…”
Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiriku dan suamiku.
“iya. Ada apa?” jawab suamiku.
“ibu dan bapak ini orang tuanya Ajeng ?”
“iya. Kamu siapa?” jawabku.
“perkenalkan saya Ferri Pak, Bu teman kuliahnya Ajeng”
“teman kuliah? Kebetulan nak, apa yang kamu ketahui tentang Ajeng selama ini?” Tanyaku sedikit memaksa Ferri untuk menjawab pertanyaanku.
“mari ikut saya Bu..”
Anak laki-laki itu mengajaku berjalan dari tempat aneh ini. Aku dan suamiku mengikutinya tanpa berkata sesuatu apapun. Kami berjalan ditengah keramaian kota dan tanpa ada percakapan didalamnya. Ferri membawaku dan suamiku ke tempat sepi, agak kumuh, dan ada sebuah rumah kecil yang tampak hanya dengan pencahayaan yang sederhana.
“tempat apa ini, nak?”
“ibu nanti akan tahu sendiri apa yang ada di dalamnya”
Aku hanya diam mengikuti Ferri masih ke dalam rumah itu. Dan disana, aku menemukan Ajeng sudah memakai jilbabnya tapi sedang bersama anak-anak kecil makan bareng.
“ibu?” Ajeng terkejut.
“iya ini ibu.”
“kenapa ibu bisa samapi disini?”
“ferri yang membawa ibu kesini. Mereka ini siapa?”
“ini anak didik Ajeng Bu, ibu, ijinkan Ajeng menjelaskan semuanya.”
“tidak perlu nak, ibu mengerti sekarang. Dan mala mini juga ibu akan kembali pulang kerumah.”
“kenapa?” Tanya Ajeng sambil meneteskan air mata.
“pulanglah kamu ketika kamu sudah yakin untuk pulang. Untuk sesuatu yang mulia maka mulailah dengan sesuatu yang mulia pula. Berhentilah menjadi pelacur nak!”
Aku pulang malam itu juga. Dan dengan segala keikhlasan aku meninggalkan anakku menangis didalam rumah itu. Aku pulang bukan karena membenci anakku tapi karena aku sekarang telah memiliki keyakinan yang sama seperti suamiku bahwa Ajeng akan pulang suatu saat nanti ketika dia sudah siap. Bagiku sekarang Ajeng adalah anakku yang berhati mulia. Dan aku bangga dengan Ajeng.


Tema: Apa Kabar Kartini
Seleksi Penulisan Cerpen Teater Tiyang Alit ITS SBY
14 April 2012
@markas TA

Masih jelek banget,. dikasih waktu 5 jam tp cuma dikerjain selama 1 jam gara2 aku tinggal ke jurusan dulu, jadi nggak maksimal hasilnya.. Masih perlu belajar lagi :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar